Nitanati matchmaking part 11

Mukanya tampak sangat kacau. Kantong mata yang membesar dan mata yang memerah akibat kurang tidur karena semalam ia sulit sekali tidur. Ia terus saja menunggu Rio yang tak kunjung datang bahkan hingga sekarang.

Pemuda itu sangat-sangat membuatnya kecewa. Ia lantas mengolesi bedak ke kelopak bawah matanya. Berharap mata pandanya bisa sedikit tersamarkan. Rasanya ia tidak ingin pergi ke sekolah hari ini. Kepalanya terasa berat dan pusing. Ia tidak ingin membuat kedua orangtua Rio khawatir. Ify melihat bayangannya di cermin sekali lagi lalu mendesah pelan.

Setidaknya lebih baik dari sebelumnya. Ia berjalan sambil menenteng tasnya menuju pintu kamar Rio. Saat ia membuka dan menariknya ke dalam, ia menemukan Rio berdiri di depannya. Tampaknya pemuda itu tadi juga ingin membuka pintu tapi didahului olehnya. Ia hanya diam menatap pemuda itu yang juga menatapnya. Ia tersenyum sebaik yang ia mampu pada Ify. Pemuda itu bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa semalam. Ia kemudian melengos begitu saja setelah menutup pintu tanpa membalas ucapan Rio.

Rio melihat itu hanya bisa menghela napas dan bersabar dalam hati. Bukan salah Ify kalau gadis itu marah memang. Tak sekalipun Ify menoleh ke arah Rio. Ini bukan lagi akhir yang buruk, tapi sangat buruk. Sebenarnya tidak akan lebih buruk kalau ia bisa mengajak gadis itu bicara baik-baik.

Tapi, keberanian dalam dirinya belum terhimpun sampai sekarang. Ia bingung harus menjelaskannya bagaimana agar Ify tidak tersinggung. Ia tidak ingin terlihat membela salah satu kubu. Mereka kemudian berjalan bersisian masih tidak saling bicara.

Ify hanya menatap lurus ke depan sementara Rio tak bisa berhenti mencuri-curi pandang padanya. Ia tidak terlalu memedulikan apa yang sedang pemuda itu lakukan. Kepalanya yang terasa makin berat membuatnya tak bisa mengacuhkan apapun. Ia lebih peduli ia bisa sampai di kelas tanpa digotong atau tidak. Ketika mereka sudah berjalan menyusuri hampir setengah koridor sekolah dan tinggal beberapa langkah lagi sampai di kelas, Ify tiba-tiba berhenti.

Ia mencengkram lengan Rio sekaligus mencari pegangan agar ia tidak jatuh. Ia menutup mata dan mendesis pelan ketika pusing di kepalanya semakin menjadi. Rio lantas memandangnya khawatir. Ia meletakkan punggung tangannya di kening Ify memeriksa suhu tubuh gadis itu. Tidak begitu panas tapi tetap saja suhunya tidak normal.

Badan gadis itu juga hangat. Mau tidak mau Ify harus segera di opname. Ify mengangguk pelan meski kurang yakin. Tapi setidaknya, ia masih sanggup berdiri sekarang. Ntar bilang kalo misalnya lo udah gak kuat jalan. Kelasnya kan di situ.. Yang ia pikirkan hanya bagaimana agar mereka bisa cepat sampai di rumah sakit. Bukan pingsan, tapi gadis itu tertidur. Hanya sekali rintihannya terdengar saat tangannya ditancapkan jarum infus.

Rio mendesah lega saat mendengar penjelasan dokter. Dokter bilang Ify hanya dehidrasi dan kurang tidur. Bisa dibilang juga kelelahan. Tapi, nanti sudah bisa langsung dibawa pulang kalau cairan infusnya sudah habis dan panas tubuhnya hilang. Sekali lagi Rio menghela napas lega.

Ia duduk di tepi ranjang sambil memangku dan menggenggam tangan Ify yang tidak terpasang infus. Kalau dihitung mungkin sudah hampir 2 jam Ify tidur. Harusnya ia sudah membangunkan gadis itu agar minum obat tapi ia tidak tega. Ify tidur lelap sekali seperti tidak tidur berhari-hari. Kira-kira kenapa ya gadis itu bisa sampai jatuh sakit begini? Apa jangan-jangan benar kalau semalam gadis itu menunggunya?

Atau malah Ify semalaman menangis karena dirinya? Ck, harusnya ia datang saja malam tadi jadi ia tidak bertanya-tanya seperti ini. Tangan Ify dalam genggaman Rio bergerak-gerak. Rio memalingkan pandangannya ke wajah Ify. Gadis itu sedang berusaha membuka matanya lalu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mengenali di mana keberadaannya saat ini. Pandangannya terakhir jatuh pada Rio. Rio berdiri mengambil beberapa butir obat di atas lemari di samping ranjang serta segelas air.

Ia kembali duduk di samping ranjang. Mau gue bantu duduk? Ify menggeleng lalu berusaha duduk dan bersandar pada bantal sendiri. Setelah itu, Rio mendekatkan dirinya dengan Ify sambil menyodorkan kedua tangannya yang masing-masing memegang obat dan segelas air. Ify mengambil gelas dan obat serta menelan semuanya sekaligus dalam diam. Ia lalu mengembalikan gelas tadi pada Rio dan Rio lekas menaruhnya lagi di atas lemari.

Sekarang sudah tidak ada hal lagi yang bisa dijadikan untuk basa-basi. Ify masih saja mendiamkan Rio dan juga tidak memandang pemuda itu. Ify diam enggan menjawab. Rio menggigit bibirnya bingung dan sedikit panik. Rio mendesah pelan lalu menggenggam tangan Ify. Gue pikir lo mau nenangin diri dulu dan gak mau ngomong sama gue.

Lo bahkan dulu nolak gue terang-terangan, Yo. Gue tetep berusaha mendekatkan diri sama lo. Dan lo, bahkan cuma hal kecil kayak gini aja lo udah nyerah buat gue. Sebenernya yang nenangin diri itu gue atau elo? Sekali lagi ia menyesal malah membiarkan Ify sendiri malam tadi. Mereka lalu terdiam dengan pikiran masing-masing. Lo harusnya lebih dulu nanya sama hati lo, lo pengen ngejaga perasaan siapa.

Karena gue gak ngerasa perasaan gue dijaga sama lo. Lo sama sekali gak mikirin gue, Yo. Gue gak mau akhirnya kalian berdua saling benci. Gue gak mau peristiwa kayak kemaren terulang lagi bahkan jadi lebih parah. Cuma Dea yang boleh benci sama gue? Cuma Dea yang boleh ngelakuin hal-hal buruk sama gue sedangkan gue harus senantiasa baik sama dia? Kenapa lo bisa semudah itu maafin dia? Gue juga harus ngejaga perasaan dia dan gak mikirin perasaan gue? Gue harus memperlakukan dia sebagai ratu setiap saat?

Coba lo pikir lagi, selama ini dia udah banyak bikin gue sakit hati. Lo gak pernah serius nanggepin perlakuan dia ke gue. Lo gak pernah mikirin sakit hati yang selama ini gue rasain, Yo. Sepertinya apapun yang ia ucapkan selalu menjadi pisau tajam yang langsung menyakiti hati Ify. Gue pikir lo bener-bener marah karena Debo nyium gue.

Tapi ternyata itu cuma hiburan semu untuk gue.


Watch and download babe pounding hot porn babe pounding movie and download to phone. Expert Reviews provides authoritative and independent technology reviews. Our in-depth testing will help you find the perfect products to buy.

Total 1 comments.
#1 23.07.2018 в 05:49 Arjan2001:
The anonim is indefatigable